Implementasi Last Planner System pada Tahap Commisioning dan Qualification

Studi yang dilakukan William Power, Derek Sinnott, dan Aidan Mullin (2020), yakni mengevaluasi implementasi Last Planner® System (LPS) di fase Komisioning dan Kualifikasi (C&Q). C&Q adalah fase yang terakhir dan paling kritis dari sebuah proyek. Namun, pentingnya fase ini seringkali dipandang sebelah mata. Hal tersebut dikarenakan nilai biaya yang dikeluarkan, umumnya, hanya sebesar 3-5% dari keseluruhan biaya proyek.

 

Tujuan inti dari fase C&Q adalah untuk menyediakan bukti terdokumentasi yang menunjukkan bahwa sistem bangunan telah dilaksanakan sesuai dengan prinsip Good Engineering Practice (GEP) dan User Requirements. Selain itu, C&Q berfungsi untuk menjamin bahwa sistem sesuai dengan persyaratan instalasi, beroperasi di seluruh rentang desain yang sesuai, spesifikasi desain yang disetujui, kode peraturan, dan dilaksanakan sesuai GEP saat ini.

 

Last Planner® System (LPS) bertujuan untuk menghilangkan pemborosan dan mengurangi variabilitas dengan menghasilkan alur kerja yang andal. Fungsi penting LPS adalah belajar dari kegagalan pelaksanaan komitmen tugas dan mengimplementasikan perbaikan untuk memastikan kegagalan serupa tidak akan terulang kembali. Data dan pembelajaran yang dihasilkan dari implementasi LPS harus digunakan untuk mengidentifikasi kelemahan dalam proses pelaksanaan proyek dan mengikuti analisis akar masalah. Tindakan perbaikan harus dilaksanakan untuk mempromosikan budaya continuous improvement.

 

Manfaat LPS dalam proses C&Q

 

Manajemen klien, Senior Leadership Team, pemimpin tim pelaksana, dan tim proyek menyatakan kepuasannya dengan struktur dan ketertiban fungsi LPS dibawa ke proses perencanaan. Hanya dengan mengukur PPC, proses perencanaan C&Q LPS mingguan membawa peningkatan stabilitas selama periode waktu implementasi LPS 40 minggu. C&Q ada dan berkontribusi pada sesi Pull Planning, Lookahead, dan Weekly Work Planning proyek. Peran tersebut meningkatkan visibilitas kapan C&Q yang sudah sesuai dapat diserahkan. Namun, sampai sekarang, visibilitas tersebut masih belum bisa didapatkan dan tim C&Q mengerjakan P6 Schedule yang tidak mencerminkan status proyek terkini.

 

Meskipun begitu, manfaat terbesar implementasi dari Last Planner System adalah pada rencana mingguan (Weekly Work Planning) dan evaluasi Reasons for Non-Completion (RNC) dari pekerjaan yang telah di komitmenkan yang memungkinkan identifikasi dan implementasi perbaikan. Temuan utama lainnya termasuk peningkatan pelaksanaan kolaborasi yang jelas dan tidak hanya jargon, peningkatan visibilitas alur kerja, peningkatan produktivitas yang dihasilkan, penyelarasan schedule, safety, minimalisir biaya, dan meningkatkan manfaat nilai tambah klien.

Implementasi terintegrasi antara Virtual Design and Construction (VDC) dan Lean Project Delivery System (LPDS)

Lean Project Delivery System (LPDS), yang sudah terbukti menjadi metode yang sangat efektif untuk meningkatkan produktivitas konstruksi. LPDS yang merupakan hal baru dalam industri konstruksi, menerapkan sistem ini bukanlah hal yang mudah, disisi lain Desain dan Konstruksi Virtual (VDC) juga membuka peluang baru bagi industri konstruksi untuk membuat proses konstruksi memiliki peningkatan performance yang signifikan, dengan proses pengerjaan yang terbukti lebih cepat. Menggunakan potensi VDC untuk melengkapi LPDS secara efektif adalah sebuah terobosan baru dalam sebuah proyek kontruksi.

LPDS dikembangkan sebagai filosofi untuk meminimalkan pemborosan (waste), meningkatkan nilai (value) dari sudut pandang pelanggan, dan mencapai kesempurnaan melalui perbaikan terus-menerus (continuous improvement).

Ballard yang mempelopori pengembangan LPDS dengan memperkenalkan konsep lean dalam empat fase

  1. Tahap pendefinisian proyek, (project definition)
  2. desain lean, (lean design)
  3. pasokan lean,( lean supply)
  4. dan perakitan lean dalam konstruksi (lean assemblyin construction)

Fitur utama dari LPDS adalah manajemen proyek sebagai proses yang menghasilkan nilai, yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan dalam perencanaan dan desain, dengan alur kerja yang handal melalui pengoptimalan, penggunaan pull system yang sudah diperbaharui, dan perbaikan terus menerus.

COMET LPS (Communication, Collaboratin, Commitment, Empathy-Last planner system) value stream mapping (VSM), Lean Project Delivery (IPD), Just in Time (JIT), target value design (TVD), set based design (SBD), dan sort, set order, shine, standardize and sustain (5S) adalah tools yang sering digunakan untuk mengimplementasikan LPDS di keempat fase.

LPDS memiliki kemampuan yang cukup untuk mengelola proses konstruksi dan setiap individu yang terlibat secara efisien karena struktur implementasinya yang memberikan keterlibatan awal semua pemangku kepentingan proyek termasuk para pekerja kontruksi dari tahap perencanaan dan desain, dan budaya akan menjadi kolaborasi yang baik.

Sekalipun sudah menjadi metode yang terbaik, LPDS masih mempunyai hambatan selama pengerjaan, dan Untuk mengatasi hambatan implementasi ini, dapat memanfaatkan fitur dari VDC seperti automation, pengembangan alternatif secara cepat pada tahap desain dan perencanaan, komunikasi online, dan visualisasi yang lebih baik. Hal ini dapat berdampak besar pada melaksanakan LPDS secara efektif.

Mempertimbangkan manfaat yang dapat diperoleh dengan menggabungkan VDC dan lean, banyak peneliti yang sudah mengevaluasi sinergi antara LC dan VDC untuk implementasinya yang efisien. Dalam penelitian ini, produk, proses, dan model organisasi dikembangkan di lingkungan VDC untuk memfasilitasi implementasi prinsip lean dalam proyek konstruksi. Adapun kebutuhan untuk menggabungkan aspek VR yang imersif ke dalam metrik interaksi VDC.

 

Fungsionalitas VDC dieksplorasi berdasarkan yang dijelaskan oleh Rischmoller et al. Improvement yang dapat di terapkan atas penggabungan VDC pada LPDS adalah:

  1. pada organisasi dan pengendalian aktivitas kerja dalam sebuah proyek.
  2. Sistem proses pengerjaan di ibaratkan sebagai sistem produksi barang
  3. Throughput, dan waktu siklus dioptimalkan untuk meningkatkan kinerja proyek.
  4. Visualisasi desain secara real-time, proses, dan status proyek saat ini dapat memberikan wawasan mendalam untuk memastikan strategi manajemen proyek yang lebih baik.

Penyelarasan tujuan klien dan tujuan proyek harus dipastikan sehingga produk akhir memenuhi kebutuhan pelanggan dan dicapai dengan meningkatkan komunikasi

Dengan adanya metode terbarukan dan lebih mengikuti perkembangan zaman akan membantu kita dalam segala aspek kehidupan, sama halnya dengan metode ini yang akan sangat bermanfaat bagi para kontraktor dari sekala kecil maupun proyek besar yang melakukan implementasi Lean Project Delivery System (LPDS).

Lean Construction Publisher Uncategorized 0 Comments

Forum Fasilitas Produksi Migas 2021

IAFMI (Ikatan Ahli Fasilitas Produksi Minyak dan Gas Bumi Indonesia) mengundang Lean Construction Institute Indonesia  yang di wakili Pak Budi Utomo, founder Lean Construction Institute Indonesia sebagai pembicara utama dalam sesi Project Management 1 Agile Transformation in Managing Project bersama Pak Suwahyanto, Direktur Project Execution, PT. Kilang Pertamina International, Dr. Abdurahman Syahwari, Direktur Utama PT. Solmit Bangun Indonesia.

 

ITB Civil Engineering Expo

ITB mengundang Lean Construction Institute Indonesia, dalam hal ini Pak Ir. Budi Utomo, RLA, CBA, SSBB sebagai pembicara dari Student Conference ITB Civil Engineering Expo bersama dengan Pak Novias Nurendra sebagai Direktur Operasi dari PT. Hutama Karya, Pak Deddy el Rashid dari konsultan gedung, dan Pak Aswin Indraprastha, sebagai wakit dekan ITB

AKI – LCII Webinar 11th – 12th November 2021

Dear all,
Pelaku Industri konstruksi baik Sponsor, Owner, MK, Main Contractor, dan Subcont, salam sehat & salam tangguh konstruksi nasional.

PRODUKTIFITAS dan EFISIENSI sangat berpengaruh terhadap sukses dan profitnya suatu Proyek.

Bagaimana melakukan peningkatan PRODUKTIFITAS proyek agar On SCHEDULE dan On BUDGET?

Temukan jawabannya pada Webinar berkelanjutan ke FGD dan Benhmark ini.

Link pendaftaran:
bit.ly/AKI_LCII_Webinar

#webinar #konstruksi #leanconstruction #indonesia

 

BuildTech Asia 2022 x Lean Construction Institute Indonesia

We support BuildTech Asia 2022 which is happening in Hybrid Format from 15 -17 March 2022. The International Building and Construction Technology trade event aims to help accelerate the adoption of digitalized solution and smart technologies as part of the industry transformation roadmap for the Built Environment sector.

 

#buildtechasia #builtenvironment  #construction

 

facebook: @buildtechforasia

linkedin: @buildtechasia

 

  • Website Link:

https://buildtechasia.com/

  • Registration Link:

https://www.gevme.com/buildtech-asia-2022-58202239/?promo=LCII_BTA22

 

BuildTech Asia (BTA) is the region’s premiere B2B trade event on Building and Construction Technology.

 

BTA 2022 aims to help accelerate the adoption of digitalized solution and smart technologies as part of the industry transformation roadmap for the Built Environment sector. Riding on the success of the last 2 digital series, BTA is coming back with a hybrid format (with physical and virtual format) from 15 – 17 March 2022 at the Singapore EXPO, Hall 3.

 

This 11th edition brings together 10,000 trade professionals to convene virtually and physically, to facilitate exchange of insights, knowledge and solutions to help Start, Scale and Sustain their transformation journey, focusing on the following key segments: Productive Technologies, Building Materials, Construction Machineries, Architectural Finishes, and Facilities Management.

Lean Construction Maturity Assessment Advantage

  • Dash board hasil LCMA dalam bentuk radar chart yang mudah di lihat ada di posisi dimana untuk tiap pilar yg di nilai
  • Laporan yang simple ,mudah dimengerti karena :
    • Berisi WAH yg dilengkapi dengan objective evidence yang jelas bukan hanya interview tapi disertai document/ form, Sop,foto, video.
    • Berisi OFI dan AFI yang mudah diikuti,karena dipapar kan dengan detail dan jelas, mengacu pada objective evidence yg ada di WAH baik dari hasil Questionnaire, desk study, wawancara dan assessment di lapangan.
    • Report dipaparkan dengan Score dan radar chart sehingga terlihat pilar mana yang perlu diimprove
    • Dampak keterkaitan dari aspek SQCD SMPE juga diperlihatkan grafiknya,
    • sebagai alat yang mudah untuk membandingkan antara proyek dengan proyek yg lain, SBU, Perusahaan yg lain, karena apple to apple dan konsisten dan tidak bias.
    • Accessment obyektif meminimalisir subyektifitas, karena setiap level tahapan score (1-5) ada kriteria kondisi yang jelas.
    • Baik acceccor dan asceesee bisa bersama melakukan accessment, self assessment bisa dilakukan oleh internal assessor.
    • WAH &OFI Mengacu prinsip POARE ( Problem, Objective, Area, References, Evidence
    • Potret Lean ini lebih cepat dan mudah diimplementasikan karena, seperti prinsip kaizen, praktis,mudah diterapkan tapi hasil signifikan.
      • jika PMBOK fokus dalam mengelola proyek ,sedangkan Lean fokus pada bagaimana melakukan improvement dan peningkatan kinerja dengan cepat dan dengan sumber daya yang efisien.

Lean Construction Maturity Assessment Definition and Benefit

Definisi

Lean Construction Maturity Assessment LCMA adalah sebuah framework pengukuran untuk menilai maturitas yang dilakukan secara komprehensif dan detail dari tahapan initiating, planning, scheduling,executing, closing commissioning fokus pada sejauh mana Proyek, Perusahaan atau Coorporate (proyek, program , portfolio) telah berjalan ecara efektif dan efisien dari sudut pandang penerapan 11 prinsip Lean Construction dengan sekaligus memastikan bahwa prinsip-prinsip 1S0 9001, 1S0 21500,PM BOK OPM3 yang relevan tetap berjalan baik EPC, Design Bid Build, maupun Design Build.

 

Benefit

  • Perusahaan menjadi tahu gap terhadap requirement Lean Construction dan tahu hal yang perlu diimprove dari tahap initiating, planning, executing, monitoring & Controlling, Cl? sehingga lebih siap menghadapi global kompetisi dan pecapaian target Visi, misi Perusahaan.
  • Managemen dan semua level karyawan di Perusahaan menjadi aware untuk terus sinergi melakukan Continual improvement
  • Manajemen bisa tahu ada diposisi mana untuk setiap pilar yang di asses dan bagaimana meningkatkan skor kinerja dipilar tersebut.
  • Dengan mudah bisa membandingkan secara apple to apple score radar chart antar pilar dan bisa dilakukan crocs audit.
  • Tidak menimbulkan bias dan subyektifitas dalam penilaian karena kriteria Jelas dengan objective evidence yang jelas untuk tiap kriteria.
  • Bisa menimbulkan semangat kompetisi untuk melakukan improvement mengacu dari hasil score radar chart.
LinkedIn
Share
WhatsApp