MENTAL ROBOT MENJADI PROAKTIF DAN KREATIF

Ownership dari semua pelaksana di lapangan termasuk tukang, mandor dan subcont sebagai pelaksana proyek akan meningkatkan safety, mengejar target waktu , peningkatan kualitas. Hal ini sangat masuk akal karena selama engagement tinggi, pasti output akan maksimal. Kedua, Komunikasi, kolaborasi, dan komitmen serta empati antarsubcont, mandor dan main contractor akan jauh meningkat. Ketiga, Akan tercipta suasana yang all happy. Meskipun di banyak proyek, banyak subcont atau vendor yang teriak masalah pembayaran yang tertunda. Mereka merasakan happy karena koordinasi kerja dan komunikasi yang lebih baik dan lebih intens, sehingga rework atau waktu hilang karena menunggu bisa jauh diminimalisir.

Pernah penulis saat visit lapangan disalah satu proyek, kita lihat ada pekerjaan bongkaran yang dilakukan manual oleh sekitar 6 orang, sementara di sampingnya sekitar jarak 20 meter ada excavator yang nganggur. Waktu ditanya, kenapa dikerjakan manual? Excavatornya tidak bisa masuk area lokasi, karena ada bongkaran pile yang belum dilakukan. Padahal area lain yang tidak untuk jalan excavator, sudah lebih dulu dibongkar. Sudah berapa lama begini? Sudah berjalan 2 hari. Lho kenapa tidak disampaikan pada GSP? Sudah, tapi masih sama saja pak.

Nah ini salah satu contoh 1 dari 11 waste yang terjadi karena lemahnya komunikasi, kolaborasi, dan komitmen. Hal ini sering terjadi di lapangan, belum yang berdampak pada bongkar pasang. Dari waste yang terjadi karena waktu hilang 1-2 hari tapi berulang pada kejadian yang serupa. Kalua diakumulasi bisa membuat terlambat projek secara signifikan.

Dengan COMMET room, hal ini bisa sangat diminimalisir. Dengan COMMET Room khusus untuk disain yang dikembangkan LCII, waste yang terjadi bisa diminimalisir. Ditambah dengan aplikasi prinsip ALCQP (Advanced Lean Construction Quality Planning), dimana prinsip “Right First Time atau benar dari awal” diaplikasikan ke dalam format dan metode yang aplikatif.

Lho Bagaimana Bisa, Seorang Mandor Atau Wakil Mandor Yang Rata-Rata Edukasinya Terbatas, Diberi Peran Lebih?

Nah inilah bedanya dengan sistem konvensional, dan inilah mengapa Prof Ballard dan Prof Koskela mengadopsi metode Toyota Production System dengan filosofi Toyota Way yang sangat terkenal dan berhasil diimplementasikan di berbagai sektor industri.

Kalau sebelumnya Foreman, atau mandor hanya seperti robot menjalankan master schedule dan kemudian hanya menunggu saat ada masalah dengan subcont atau mandor lain yang belum selesai atau tumpang tindih saling tunggu, sekarang diubah cara pandang, konsep, dan budayanya. Mandor dikondisikan untuk proaktif dan terlibat dalam mencari solusi saat target tidak tercapai dan ada masalah terkait safety, quality, dan schedule. Budaya dan cara pandang Toyota inilah yang menginspirasi Prof Ballard dari Berkeley untuk mememperbaki produktifitas industri konstruksi, dan berhasil.

Dengan Commet Room, mandor dan subcont didorong lebih proaktif dan kreatif dalam mempercepat schedule, meningkatkan kualitas dan safety secara effisien. Alasannya, semua mandor dan subcont juga ingin efisien kerjanya, sehingga margin yang didapat menjadi lebih banyak.

Target Value Delivery

Banyak customer memahami kebutuhan mereka tetapi tidak ingin tahu hal yang seperti apa yang dapat
memenuhi kebutuhan itu bagi mereka. Bagi para pengelola bisnis, kurangnya pemahaman ini
merupakan kesempatan untuk menunjukkan secara persuasif nilai dari apa yang mereka berikan dan
untuk membantu customer membuat keputusan pembelian yang lebih cerdas.

Dalam bidang konstruksi sendiri hal-hal seperti itu bisa disebut dengan Target Value Delivery atau TDV.
Target Value Delivery merupakan kedisiplinan manajemen yang diaplikasikan pada saat mendefinisikan
project, merancang, merencanakan, konstruksi, komisi dan aktivasi untuk untuk menjamin bahwa
fasilitas memenuhi kebutuhan aspek-aspek pengguna melalui budget yang telah disepakati, dan
mempromosikan sebuah inovasi ke dalam proses untuk meningkatkan nilai pelaku bisnis itu sendiri.

Untuk dapat memahami pentingnya TVD, pertama-tama kita perlu memperhatikan biaya proyek dari
beberapa metode penyampaian proyek. Salah satunya metode penyampaian project secara DBB yang
mana sudah sangat sering kita temukan di berbagai negara. DBB atau Design-bid-build, juga dikenal
sebagai Design-tender traditional method atau hard bid, yang merupakan metode penyampaian proyek
di mana agensi atau pemilik kontrak dengan entitas dibuat terpisah antara desain dan konstruksi proyek.
Dari segi biaya sendiri, metode penyampaian proyek DBB ini diperkirakan akan terus meningkat setiap
waktu. Dengan adanya penerapan sistem Target Value Delivery diharapkan pelaku bisnis dapat menekan
biaya konstruksi dan meminimalisir pengeluaran biaya yang tidak diperlukan sepanjang masa
pembangunan.

Tanpa adanya pengaturan manajemen yang teratur atau diawasi, proyek cenderung meningkatkan biaya
melalui tahap pelingkupan, desain, dan konstruksi. Target Value Delivery menawarkan strategi untuk
mengelola biaya proyek melalui pengembangan dan konstruksinya. Menetapkan target biaya untuk
sebuah tim dapat menyelaraskan pemikiran dan memotivasi anggota untuk berinovasi. Bagaimana
target tersebut ditetapkan dan siapa yang terlibat dalam menetapkannya sama pentingnya dengan
target apa yang sebenarnya ditetapkan dalam proyek. Melalui strategi yang difokuskan, proyek dapat
mencapai ruang lingkup, jadwal, dan biaya yang diinginkan.

Budaya Dan Prinsip 1 Leadership & Respect For People

Implementasi Lean Construction sebenarnya mudah, selama pimpinan proyek dan stakeholder mempunyai komitmen yang kuat untuk melakukan perubahan. Perubahan dari metode dan budaya yang selama ini dipakai, menuju budaya atau metode yang mengacu pada Lean Construction yang jelas terbukti sukses dipakai di kontraktor2 besar di Amerika, Jepang dan China.

Tentu saja ada tantangan yang harus dihadapi, yaitu terutama perubahan BUDAYA itu sendiri. Mengacu dari 12 prinsip yang telah dikembangkan LCII (Lean Construction Institute Indonesia), ada 12 tahapan yang diawali dengan kesiapan menghadapi PERUBAHAN menuju peningkatan SoToBoSoREMPAH, yaitu Safety on Time on Budget on Spec on Return Environmental Moral Productivity dan All Happy. Perubahan menuju Budaya Lean Construction melalui Prinsip 1 Lean Construction, yaitu Leadership & Respect for People.

Di sini pemegang kebijakan akan diberikan pemahaman mengenai Leadership Lean Construction. Meskipun sudah memiliki kemampuan Leadership yang baik dan kuat, tapi ada hal mendasar yang total berbeda dalam prinsip Lean Construction, yaitu “PULL system” dan bukan PUSH system. Prinsip ini sangat luas pengertian dan manfaatnya. Bukan hanya sekadar material, tenaga kerja, alat yang dikirim harus sesuai dengan yang dibutuhkan. Namun pengertiannya sangat luas, mulai dari Lean Design, SCM, dan implementasi konstruksi sampai “PULL” keterlibatan pelaksana lapangan.

Kelemahan Proses Konstruksi dan Apa Peran BIM 4D dan 5D?

Dari kacamata aplikasi program managemen proyek BIM 3D dan program scheduling pada tahap pelaksanaan konstruksi, masih sangat lemah di banyak proyek. Fungsi kontrol dan monitor di lapangan untuk eksekusi BIM tahap perencanaan dan desain yang sudah link dengan atribut biaya, material, volume dan jadwal, masih banyak sekali ruang untuk dilakukan improvement. Ada semacam missing link antara perencanaan dengan kenyataan yang berdampak besar pada keberhasilan proyek atau opportunity for improvement yang hilang.

Salah satu penyebab utamanya adalah kontrol jadwal yang belum maksimal. Penyebabnya adalah banyak proyek-proyek yang dimonitor bukan lagi menggunakan Primavera atau Microsoft Projec t melainkan hanya dengan Microsoft Excel. Sehingga link antara model BIM 3D dan jadwal tidak optimal.

Memang diawal semangat menggunakan BIM, Primavera ataupun Microsoft Project tinggi, namun saat memasuki tahap pelaksanaan yang kompleks, banyak yang tidak konsisten dan kembali menggunakan Microsoft Excel untuk updatenya. Seharusnya dari update excel tersebut, di input kembali ke Primavera atau Microsoft Project dan sebaliknya, namun karena proses update yang perlu tahapan dan makan waktu, hal ini jadi sering terabaikan. DItambah PIC yang bisa akses ke Primavera atau Microsoft Project biasanya terbatas.

Sebab lain Microsoft Project atau Primavera tidak update karena ada beberapa kasus untuk master schedule menggunakan Primavera atau Microsoft Project, namun untuk pendetailan work-breakdown struc ture ( WBS) menggunakan Microsoft Excel. Alasannya karena faktor akses dan kolaborasi antar disiplin yang lebih mudah dan cepat. Hal ini sebenarnya adalah cara yang tidak tepat, karena aplikasi Microsoft Excel bukanlah suatu program dan aplikasi untuk manajemen proyek. Jadi kita perlu “kembali ke jalan yang benar” dengan selalu kembali mengacu pada Primavera dan Microsoft Project yang sudah dikaitkan dan diintegrasikan dengan aplikasi BIM 3D, menjadi BIM 4D ataupun BIM 5D.

OPTIMALISASI APLIKASI BIM 4D DAN 5D

Saat ini, berbagai software BIM banyak digunakan di berbagai proyek di Indonesia. Tetapi pemilihan aplikasi yang tepat pada setiap siklus konstruksi menjadi poin kritikal dan tantangan dalam implementasi BIM. Siklus sebuah proyek dari tahap perencanaan, tahap desain, tahap konstruksi, dan tahap operasi dan maintenance mempunyai ciri khas kegiatan masing-masing. Pemilihan software yang digunakan harus sesuai dengan karakteristik kegiatan dari setiap tahap tersebut. Pemilihan aplikasi yang tepat sangatlah penting untuk kesuksesan keseluruhan proyek tersebut.

Sudah banyak kupasan dan artikel mengenai implementasi BIM pada tahap perencanaan dan desain, baik untuk beauty contest maupun kolaborasi diawal antar disiplin, owner, kontraktor dan subkon. Baik yang menggunakan support Big Data & Analytic, VR (virtual reality), AR (augmented reality), 3D scanning, Artificial Intelligence (AI), UAV Drone, 3DR Site Scan, Pix4D, LOD Planner, Autodesk Revit, Tekla, ArchiCad, Sketchup, Solidworks, BIM 360, Glodon dan masih banyak lagi. Lalu bagaimana dan apa dengan aplikasi BIM yang diperlukan pada tahap konstruksi, operasi dan maintenance?

Pada kesempatan ini, penulis akan membahas implementasi BIM pada tahap konstruksi. Pada tahap ini, baik BIM 4D atau BIM 5D sangat penting dalam mendukung dan memberi manfaat pada pelaksanaan konstruksi.

Apa saja yang bisa dilakukan BIM pada tahap pelaksanaan konstruksi?

Mayoritas industri konstruksi di Indonesia masih fokus BIM pada tahap desain dan perencanaan. Sedangkan BIM pada tahap eksekusi konstruksi masih belum banyak diaplikasikan. Aplikasi BIM pada tahap ini sebenarnya juga sangat kritikal untuk keberhasilan suatu proyek, karena kontrol terhadap suatu proyek atau konstruksi sangat diperlukan agar BIM desain dan perencanaan bisa tereksekusi optimal.

Bila pada tahap perencanaan dan desain tidak “right from the first time” akan berdampak besar pada tahap eksekusi konstruksi di lapangan. Sebaliknya, jika perencanaan dan desain sudah benar, tapi eksekusi konstruksinya tidak tertangani dengan baik, akan berdampak besar pada keberhasilan proyek. Untuk itul diperlukan aplikasi BIM 4D dan 5D yang fokus pada manajemen proyek dan manajemen konstruk si agar proyek bisa lebih efektif, effisien dan mengurangi banyak pemborosan karena tidak terintegrasi.

konstruksi

Bagaimana industri konstruksi dapat beroperasi dengan efektif dan efisien pada masa covid19?

Covid-19 menjadi sebuah tantangan yang berat dihadapi oleh seluruh industri di Indonesia. Industri konstruksi menjadi salah satu sektor yang sangat terdampak terhadap bencana ini. Dengan banyaknya jumlah pekerja yang keluar masuk proyek, tidak bisa diimplementasikannya Work From Home (bekerja dari rumah) khusus untuk industri konstruksi, untuk proyek pemerintah banyak budget yang dialokasikan untuk penanganan covid-19 yang membuat cash flow tersendat, menjadikan industri konstruksi harus mengambil langkah-langkah strategis yang dapat membuat proyek tetap terhindar dari Covid-19 dan berjalan dengan efektif dan efisien.

Indonesia secara khusus sedang dalam masa pembangunan infrastruktur secara besar, bencana Covid-19 menjadi sebuah tantangan di Industri Konstruksi Indonesia. Walaupun industri konstruksi menjadi salah satu dari 11 industri yang masih boleh berjalan di tengah wabah pandemi Covid-19 banyak proyek di Jakarta terpaksa untuk hold karena anjuran owner atau perusahaan. Dan untuk proyek yang tidak hold menjadi sebuah tantangan tersendiri untuk mengatur pekerja, cash flow dan produktivitas di site Dan juga dengan kasus pada covid-19 ini terutama di Indonesia semakin hari semakin bertambah sehingga menjadi kekhawatiran bagi para pekerja konstruksi itu sendiri.

Strategi dan kepemimpinan di dalam proyek sangat di uji di dalam masa pandemi ini. Berikut adalah strategi kritikal yang dapat dilakukan untuk dapat mencapai proyek yang efektif dan efisien:

Memperkuat K3

K3 yang selama ini sudah menjadi bagian penting dari proyek, diuji untuk memberikan kontribusi yang maksimal untuk menjaga seluruh tim baik main contractor, subcon, vendor, dan sampai pekerja dari proyek. Pendetailan titik kontaminasi dan pergerakan orang menjadi sebuah hal yang wajib diperhatikan.

Pendetailan progress dan cash flow

Progress di lapangan bisa menjadi sebuah tantangan yang harus diperhatikan pada masa pandemi ini. Progress yang tidak diperhatikan yang dimana nanti akan memperberat cashflow, yang jika proyek yang ditangani adalah proyek pemerintah pasti di masa pandemi ini cashflow diperberat dengan pengalokasian anggaran dari pemerintah. Memastikan progress yang dapat di slow down, dan progress yang tetap sesuai target pun menjadi hal yang harus sangat diperhatikan, salah langkah dalam menentukan ini menjadikan proyek mengalami kendala yang besar.

Penerapan Digital Construction dan Lean Construction

Momen dimana adanya physical distancing skala besar membuat meeting di proyek harus dilakukan dengan efektif dan efisien. Informasi harus disajikan dengan cepat dan tidak membutuhkan banyak orang di dalam satu ruangan. Digital Construction yang terintegrasi dengan Lean Construction menjadi sebuah hal yang dapat diimplementasikan di proyek, di samping akan memberikan data yang terintegrasi saat meeting, update progress dan kendala yang ada di site dapat dilaporkan dengan real time ke dalam dashboard. Digital Construction dan Lean Construction menjadi sebuah tools yang kritikal yang harus di implementasi di proyek saat ini.

Mempersiapkan rencana saat rebound

Rebound disini adalah saat dimana masa pandemi sudah berangsur-angsur membaik. Bagaimana tim proyek dapat kembali seperti semula dan mengejar ketinggalan. Rencana yang mendetail dengan berdasarkan pada prediksi pemerintah, proyeksi progress yang harus dijalankan, aspek sosial harus diperhatikan. Lean Construction sudah terbukti dapat membuat produktivitas dari tim proyek meningkat, penerapan Lean Construction sangat dianjurkan untuk di implementasi saat proyek mulai masa rebound nya.

Strategi yang baik akan membuat industri konstruksi di indonesia dapat mengejar ketinggalan pada masa hold dan slow down. Pada masa pandemi ini juga menjadi sebuah momen untuk dapat meningkatkan kinerja dengan peningkatan kompetensi baik dari Digital Construction dan Lean Construction agar proyek bisa berkembang menuju yang lebih baik pada saat pandemi Covid-19 ini berakhir.

new normal

New normal dalam industri konstruksi

New normal, hadir hampir bersamaan dengan rencana yang sudah di rencanakan oleh presiden Indonesia joko widodo yang dimana new normal ini hadir untuk melonggarkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Dimana new normal dimaksudkan untuk kehidupan yang baru setelah pandemi COVID-19 ini.

New normal merupakan ajakan untuk kembali. untuk hidup seperti biasa tetapi untuk lebih produktif dengan melakukan berbagai aktivitas, tapi dengan tetap menerapkan protokol kesehatan selama masa pandemi COVID-19.

New normal akan berbeda sekali dengan kebiasaan yang biasa dilakukan sebelum adanya wabah ini, dimana kita harus terbiasa memakai masker untuk berpergian kemana saja, harus selalu menjaga jarak agar bisa tetap produktif. Selalu mencuci tangan agar terhindar dari virus.

Kebiasaan seperti itu akan sering dilakukan dalam new normal kedepannya atau saat mulai PSBB dilonggarkan. Saat PSBB dilonggarkan, new normal akan berlaku bertahap pada beberapa sektor, bukan berlaku bersamaan di semua sektor.

Dunia industri konstruksi juga akan diberlakukannya new normal, dimana para pekerja konstruksi dapat bekerja seperti biasanya tetapi tetap harus mematuhi protokol yang sudah dibuat oleh pemerintah untuk industri konstruksi ini.

Konstruksi, akan kembali berjalan seperti biasanya yang sebelumnya mengalami penghentian di beberapa proyek. Setelah diberlakukannya new normal maka semua akan kembali seperti biasa. dimana pekerja konstruksi akan mengejar ketertinggalan proyek yang sebelumnya sempat berhenti dan harus segera mulai beroperasi kembali.

Setelah diberlakukannya new normal di dunia konstruksi maka akan diterapkan beberapa pembaruan seperti;

  • Melakukan meeting lewat online
  • Pengecekan suhu setiap hari
  • Tidak adanya lembur
  • Mengedukasi para pekerja untuk menjaga diri dari COVID-19
  • Menyediakan fasilitas untuk pencegahan COVID-19
  • Melakukan penyemprotan disinfektan sarana dan prasarana kantor dan lapangan

Dalam industri konstruksi new normal berarti kembali ke kehidupan yang lebih baik lagi setelah masa COVID-19 ini. Dimana konstruksi yang mengalami penurunan dari segi apapun harus bangkit lagi agar dapat bisa berjalan seperti biasanya. Para pekerja yang kemarin dirumahkan dapat bekerja lagi seperti biasanya, bahan baku yang dikirim dari luar daerah harus sudah di sterilkan agar terhindar dari virus dan bakteri. Proyek yang berhenti dapat dikerjakan kembali.   

proplanner

proplanner sebagai solusi BIM di fase konstruksi

proplanner merupakan suatu sistem yang bisa membuat project bisa menjadi tepat sasaran baik dari segi waktu, progress dan kualitasnya sendiri, selain itu proplanner juga merupakan aplikasi untuk mengimplementasikan siklus kerja berdasarkan pada Last Planner System(LPS) untuk pemantauan dan pembuatan rencana mingguan, sedangkan BIM adalah suatu model yang di dalamnya merupakan informasi bangunan yang tidak hanya terdapat desain bangunan saja, namun data mengenai sifat komponennya, pemeliharaan dan konstruksi juga terdapat di dalamnya.

Apa sajakah bagian-bagian yang terdapat pada fitur proplanner?

proplanner dirasa mampu menjadi solusi untuk Building Information Modeling (BIM) di fase konstruksi karna proplanner di fitur aplikasinya yang melalui gadget atau mobile phone sudah terdiri dari 4 bagian-bagian seperti Task, Constraint, Task yang tertunda dan Work Breakdown Structure yang berjalan. 

Berikut ini merupakan 4 bagian-bagian tersebut;

  1.       Task

Meninjau rencana mingguan, yang di sajikan di setiap hari nya melalui smart device dari Last Planner

  1.       Constraint Analysis

Memasukan Constraint dan melakukan tracking terhadap progress constraint

  1.       Task yang tertunda

Meninjau tugas yang terlambat, sudah berapa lama terlambat, dan keterangan dari alasan keterlambatan

  1.       Work Breakdown structure

Kontrol progress oleh tim Konstruksi yang sampai tingkat detail

Secara spesifik proplanner juga dapat;

  • Menetapkan orang-orang yang bertanggung jawab atas tugas tersebut 
  • Mendeteksi dan melakukan input terhadap constraint pada aktivitas yang memerlukannya
  • Menghasilkan rencana kerja mingguan berdasarkan apa yang akan dieksekusi pada periode tertentu

Dengan adanya app proplanner ini dirasa dapat untuk membuat Building Information Modeling (BIM) menjadi berjalan lebih baik lagi di kontruksi yang dimana pro planner dapat memantau serta membuat rencana mingguan dan bim juga dapat meningkatkan akurasi dan efisiensi, dimana BIM dapat membuat proses desain dan konstruksi menjadi lebih ramping dan praktis, selain itu penghitungan menjadi lebih akurat serta menghindari kesalahan mulai dari perencanaan hingga pelaksanaan. Sehingga proplanner menjadi solusi yang baik untuk Building Information Modeling (BIM) di fase konstruksi ini karna dapat membuat project di konstruksi berjalan dengan lebih efektif dan efisien. 

 

BIM

Proplanner sebagai perpaduan antara Lean Construction dan Building Information Modeling BIM

Kendala program scheduling seperti Primavera dan Microsoft Project adalah butuh keahlian untuk melakukan update terhadap schedule tersebut sedangkan data yang sebagai input di dapatkan dari lapangan, menimbulkan master schedule jadi tidak di update sesuai dengan berjalannya proyek. Saat ini, beberapa aplikasi BIM 4D dan 5D mampu mempercepat proses link yang harus dilakukan secara manual menjadi langsung antara dengan master schedule dari Primavera dan Microsoft Project. Dan atribut yang sudah diproses di Primavera atau Microsoft Project serta model 3D seperti material, quantity take off, cost, volume dan progress otomatis masuk ke dalam program aplikasi BIM tersebut. Jelas hal ini sangat membantu efektifitas, akurasi, waktu dan efisiensi sebuah proyek.

Dashboard management juga mampu menampilkan kurva S, PPC, speed of project, forecast mengejar project yang delay, bahkan sampai evaluasi kinerja dari mandor dan subcont secara real time. Aplikasi BIM tentu sangat bermanfaat, karena dengan dashboard yang memonitor dan mengevaluasi progress secara real time dan bisa diakses di manapun, akan membuat semua yang terlibat bisa memonitor bersama. Dari sisi improvement, percepatan dan penghematan menjadi lebih terbuka lebar bagi semua pihak, karena semua masalah bisa segera diantisipasi. Semua pihak dimanjakan oleh data yang tersaji secara real time langsung di lapangan melalui HP pelaksana.

Selain itu, management document baik drawing, shop drawing, request for information (RFI) hingga approval, inspeksi quality dan safety, semua terbantu secara real time termasuk report dan checklist yang bisa dibuat. sesuai keinginan. Aplikasi BIM pada tahap pelaksanaan manapun, akan membuat semua yang terlibat bisa memonitor bersama. Dari sisi improvement, percepatan dan penghematan menjadi lebih terbuka lebar bagi semua pihak, karena semua masalah bisa segera diantisipasi. Semua pihak dimanjakan oleh data yang tersaji secara real time langsung di lapangan melalui HP pelaksana. Selain itu, management document baik drawing, shop drawing, request for information (RFI) hingga approval, inspeksi quality dan safety, semua terbantu secara real time termasuk report dan checklist yang bisa dibuat sesuai keinginan.

 Apa saja Aplikasi BIM yang Focus pada tahap konstruksi?  

Sudah ada beberapa aplikasi BIM untuk tahapan proses konstruksi, seperti;

  • Final CAD
  • Novade
  • BIM 360
  • Oracle Aconex
  • Procore dan
  • Proplanner Kanban. 

Khusus Final CAD dan Novade fokus pada Quality dan Safety Inspection. BIM 360 dan Oracle Aconex fokus pada document management meskipun juga mampu melakukan inspeksi quality dan safety. Sedangkan Procore dan Proplanner Kanban focus pada manajemen  konstruksi, produktifitas dan lean construction secara luas.

Procore bisa memunculkan Microsoft Project, namun belum memunculkan gabungan BIM 3D dan Microsoft Project atau Primavera seperti pada Pro Planner Kanban. Adapun quality dan safety inspection ada dalam menu keduanya. Aplikasi pada BIM tahap konstruksi ini mempunyai kelebihan, kekurangan dan keunikannya tersendiri. Namun semua sudah bisa diaplikasikan dan diakses kapan dan dimanapun. Beberapa aplikasi bahkan bisa langsung membuat report yang customize sesuai checklist dan dashboard untuk manajemen dan monitor proyek terkait progress, subcont dan mandor evaluation.

Dengan beragam aplikasi BIM yang menunjang tahap konstruksi dan manajemen proyek memberi dampak positif yang signifikan. Hal ini membuat proyek menjadi jauh lebih efektif, efisien, serta terencana dengan baik. Sehingga BIM tidak hanya sebagai kolaborasi antardisiplin di saat awal desain dan sebagai beauty contest saja, namun terus menjadi sarana kolaborasi sampai tahap konstruksi dan penyerahan proyek, sehingga akan berdampak pada kemajuan produktivitas industri konstruksi nasional. Proplanner sebagai tools yang dapat menggabungkan dan memfasilitasi seluruh kebutuhan proyek di saat konstruksi yang bisa menjadi Big Data dan dijadikan menjadi satu tempat dan tercapailah Lean-BIM, Lean Construction dan Building Information Modeling.

LinkedIn
Share
WhatsApp